Dokter dan Sosial Media

Ibu M : Maaf menganggu. Baru baru ini Saya searching di internet kemudian menemukan informasi, bahwa pemberian VAKSIN bisa menyebabkan kematian pada anak. Saya merasa cemas setelah membaca informasi tersebut, karena anak saya baru saja mendapat vaksin.
Dr V : Bila saya boleh tahu dari Situs internet mana Ibu mendapat informasi tersebut? Dan apakah situs tersebut menyebutkan sumber informasinya?

Ibu M : Saya searching via Google dan menemukan informasi dari Blog Ibu-ibu

Dr V : Sampai sekarang tidak ada bukti bahwa pemberian vaksin dapat menyebabkan kematian pada anak. Disarankan agar Ibu-ibu lebih hati-hati dalam menyerap informasi dari sumber media manapun. Untuk Kesehatan Anak, Ibu dapat mengunjungi situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 

Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas, cukup sering diajukan oleh orangtua baik di kamar praktek maupun sosial media. Sebagian besar orangtua memang sudah membawa setumpuk informasi yang mereka dapat dari GOOGLING atau Surfing di INTERNET. 

Tentunya hal ini tidaklah mengherankan, karena berdasarkan data Kemenkominfo pengguna internet di Indonesia mencapai 63 juta orang. 95% diantaranya menggunakan internet untuk sosial media dan 5% diantaranya bisa jadi untuk googling atau surfing informasi Namun Sayangnya, di bidang Kesehatan, masih banyak sumber informasi yang tidak benar dan justru cenderung berbahaya bagi masyarakat yang didapat dari cara pencarian informasi ini. 

Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya sosialisasi mengenai situs Kesehatan resmi yang dapat dipercaya. Atau bisa juga akibat KURANGNYA JUMLAH situs kesehatan yang benar dibandingkan dengan yang "tidak benar" Mengenai hal terakhir, ada baiknya kita menyerapi kembali sebuah tulisan lama dari Rhenald Khasali mengenai Dokter Generasi C. 

Mewujudkan Dokter Generasi C adalah sebuah tantangan baru untuk Dunia Kesehatan Indonesia saat ini. Menurut Rhenald Khasali, Gen C berarti Connected, Co-creation, Creative dan Curiousity. Sebuah gambaran tentang generasi dokter yang terhubung satu dengan yang lain. Dijelaskan oleh Rhenald Khasali, kita sering berasumsi bahwa dokter adalah ahli dan cerdas. Sedangkan pasiennya, secara medis, bodoh. Dokter menunggu di ruang prakteknya dan pasien-pasien terisolasi satu dengan lainnya. 

 Masalahnya, sekarang asumsi itu sudah TIDAK VALID. Pasien terhubung dan melakukan sharing. Situs-situs lokal mempertemukan pasien-pasien berbagi pengalaman. Apalagi dengan dukungan data dari Kemkominfo dan bertenggernya Indonesia sebagai Juara Dunia pengguna berbagai jejaring sosial seperti Path, Facebook maupun Twitter. Sehingga tidak ada keraguan lagi bila NETIZEN does Exist and Rules in Indonesia 

Nah yang menjadi masalah kini, asumsi-asumsi lama sudah PASTI TIDAK VALID lagi, Pasien jelas telah berubah menjadi lebih berpengetahuan. Mereka bukan menjadi sok tahu, tetapi memang menjadi lebih tahu. Mereka juga curious atau ingin lebih tahu lagi. Apa jadinya kalau dokter masih memegang asumsi lama, tertutup dan malas membaca perkembangan baru, menutup kritik pasien dan hanya mengandalkan informasi dari detailman obat atau konferensi internasional? 

Dokter pastinya WAJIB berubah, menjadi lebih tahu dan mau membagi waktu antara praktek, belajar lagi dan mau berbagi Ilmu Tidak perlu lagi mengkotak kotakkan mana informasi "sederhana", informasi "cerdas", informasi "konsultan", informasi "dokter biasa" karena menurut Rhenald Khasali yang paling penting dirubah adalah pendekatan agar lebih KOMUNIKATIF 

Otherwise, tak heran bila bendungan berbagai isu dan mitos yang menyesatkan Kesehatan Masyarakat bahkan Merugikan hubungan Dokter dan Pasien terus merebak menjadi sasaran empuk pemberitaan media tak bertanggungjawab. Salam, dr Vicka Farah Diba  

1 komentar:

Posting Komentar

 
Bunda & Baby Z Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template and web hosting