Sebelum berangkat padel, Mom Nadine meletakkan timbangan digital di lantai.
Ia menghembuskan napas sebelum naik ke timbangan
Sambil menggendong Rafi, ia menunggu angka di layar berhenti berkedip.
“Kalau berat Mom 55 kilo, berarti bulan ini Rafi nggak naik lagi beratnya,” gumam Mom Nadine.
“Duh, kenapa berat badan Rafi stuck ya?”
Mom Nadine mulai gelisah, walau selama ini menurutnya Rafi tumbuh dengan baik.
Lagipula, makanan anaknya bukan sembarang makanan. Lauknya salmon, daging sapi impor, cemilannya biskuit bayi dari luar negeri, pouch buah, dan berbagai makanan anak yang sudah mendapat rekomendasi influencer kekinian di TikTok.
Di sela kesibukannya bermain padel atau pilates, Mom Nadine masih menyempatkan diri memasak untuk Rafi agar makanannya bervariasi. Ia juga masih menyusui Rafi yang berusia 18 bulan.
“Apalagi yang salah?” semangatnya berangkat padel menguap seketika.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi.
Ternyata Mom Celine menelepon.
“Mom Nadine di mana? Sudah ditungguin nih.”
“Duh, aku nggak mood main padel,” jawab Mom Nadine. “Berat Rafi nggak naik. Sudah dua bulan.”
“Wah, gawat itu, Mom,” jawab Mom Celine. “Bisa stunting nanti.”
“Apa itu stunting, Mom?”
“Coba deh lihat di TikTok sudah viral,” saran Mom Celine. “Rafi GTM, ya?”
“Iya, sejak beberapa minggu terakhir,” keluh Mom Nadine. “Rafi menolak makan. Mulutnya dikatupkan, kepalanya dipalingkan. Kadang satu suap pun nggak masuk.”
“Bosen itu, Mom.”
“Aku sudah masak sendiri, Mom,” jawab Mom Nadine putus asa.
“Wah, kalau anakku sih mau ya masakanku.”
Hati Mom Nadine semakin mencelos.
Rafi pun mulai rewel karena merasakan ibunya gelisah.
“Mom, aku absen padel dulu ya hari ini. Rafi mulai rewel.”
“Oke, Mom. See you tomorrow.”
Mom Nadine menutup telepon dan menenangkan Rafi.
“Duh, apa Rafi nggak suka masakanku, ya? Apa sih stunting?”
Jempolnya mulai menggulir layar ponsel.
Satu video menjelaskan ciri-ciri anak stunting.
Video berikutnya menawarkan makanan yang dapat menaikkan berat badan anak.
Mom Nadine semakin bingung.
“Jangan-jangan Rafi stunting?”
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar tidak tenang.
Dari dapur, Mbak Sari muncul membawa segelas air.
“Ibu kenapa?”
“Berat Rafi stuck, Mbak. Sudah dua bulan. Rafi GTM.”
“Sudah dibawa ke Posyandu, Bu?”
Mom Nadine mengerutkan kening.
“Posyandu itu apa?”
Mbak Sari menatapnya sebentar.
“Tempat anak-anak dipantau pertumbuhannya, Bu. Ada kader kesehatan disana.”
Mom Nadine terdiam.
Selama ini ia memang tidak pernah membawa Rafi ke Posyandu.
“Memangnya harus ke sana, Mbak?”
“Coba saja, Bu,” saran Mbak Sari. “Daripada Ibu terus menebak-nebak dari internet.”
Mom Nadine memandang layar ponselnya.
Video tentang ciri-ciri anak stunting masih terbuka.
Untuk pertama kalinya, ia mematikan layar.
“Ya sudah. Besok antar saya ke Posyandu, ya, Mbak.”
“Jangan lupa bawa Buku KIA Rafi juga, Bu.”
“Apa itu Buku KIA, Mbak?”
“Buku warna pink Bu, biasanya waktu lahir dibawakan”
“Oya mbak, nanti saya cari” jawab Mom Nadine “Sepertinya masih ada”
—————
Keesokan paginya, Rafi sudah duduk manis di pangkuan Mbak Sari ketika mereka tiba di Posyandu.
Mom Nadine duduk di samping mereka sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya.
Ada ibu-ibu.
Ada balita.
Ada meja dengan buku-buku.
Ada alat pengukur.
Dan ada beberapa kader Posyandu yang sibuk melayani orang tua.
Semakin mendekati meja pemeriksaan, Mom Nadine semakin gelisah.
“Duh, Mbak. Nanti kalau aku dikatain nggak bisa ngurus anak bagaimana?”
“Ibu-ibu TikTok bilang kader Posyandu biasanya galak, suka nge-judge.”
Mbak Sari tersenyum sabar.
“Kalau nanti kader bertanya, dijawab saja, Bu. Mereka hanya membantu memantau pertumbuhan anak.”
“Rafi?” panggil seorang kader.
“Iya.”
“Boleh lihat Buku KIA-nya, Bu?”
Mom Nadine membuka tasnya. Ia sudah menemukan buku yang selama ini lebih sering tersimpan di laci kamar.
Kader kemudian bersiap mengukur Rafi.
Mom Nadine spontan berkata, “Kalau berat badan, saya rutin menimbang di rumah.”
Kader tersenyum.
“Timbangan di rumah boleh membantu Ibu. Tetapi untuk pemantauan pertumbuhan, pengukuran di Posyandu menggunakan alat dan cara yang terstandar.”
“Jadi harus diulang lagi?”
“Iya, Bu.”
Mom Nadine memperhatikan alat pemeriksaan Posyandu. Ternyata bukan seperti timbangan beras atau gantung seperti yang berseliweran di Tik Tok.
Kader kemudian melepas jaket, topi, sepatu, dan popok lalu meletakan Rafi di atas timbangan digital.
“Oh ternyata begitu caranya” gumam Mom Nadine
“Selama ini, bagaimana cara Ibu menimbang Rafi?”
“Biasanya Rafi saya gendong saja.”
Kader hanya tersenyum lalu melanjutkan mengukur panjang badan Rafi menggunakan infantometer.
Mata Mom Nadine terbelalak.
“Kenapa harus sambil tiduran?”
“Karena Rafi masih di bawah dua tahun. Panjang badannya diukur berbaring menggunakan infantometer. Anak diatas usia dua tahun diukur dengan alat yang berbeda.”
“Hasilnya dilihat berdasarkan umur juga?”
“Iya. Hasil pengukuran dipantau dari waktu ke waktu dengan standar pertumbuhan sesuai umur dan jenis kelamin.”
Kader membuka buku KIA dan mencatat hasilnya.
“Panjang badan Rafi masih normal Bu.”
Mom Nadine menghembuskan napas lega.
“Berarti aman?”
Kader menggeleng lembut.
“Berat badannya tetap perlu diperhatikan karena beberapa bulan ini tidak bertambah seperti yang diharapkan.”
“Jadi…Rafi stunting?”
“Belum tentu. Perlambatan kenaikan berat badan atau weight faltering bukan diagnosis stunting. Ini tanda bahwa kita perlu mencari tahu penyebabnya.”
Mom Nadine terdiam.
Ternyata video-video yang ia tonton di media sosial tidak menjelaskan semuanya.
“Rafi makannya bagaimana, Bu?” tanya kader kembali
Mom Nadine menghela napas.
“Rafi sedang GTM. Nggak mau makan.”
“Makanan apa yang diberikan?”
“Salmon, daging impor, pouch buah. Pokoknya yang bagus untuk anak.”
Kader menunjuk makanan yang tersedia di meja.
“Hari ini ada makanan tambahan. Ada nasi, ikan lele, telur, dan sayuran. Sumber pangan lokal juga bisa menjadi bagian dari makanan anak.”
“Lele?” tanya Mom Nadine. “Apa Rafi doyan?”
Mom Nadine menoleh.
Ternyata Rafi sedang makan dengan lahap ketika disuapi makanan dari Posyandu.
Mom Nadine melongo.
“Lho, kok mau? Apa dia nggak suka masakan saya?”
Kader tersenyum.
“Dalam pemberian makan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Jadwal makan perlu teratur. Anak makan dalam suasana yang nyaman. Porsi disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Waktu makan tidak perlu terlalu lama. Anak juga perlu belajar mengenali rasa lapar dan kenyang. Ketika anak menolak, sebisa mungkin tidak dipaksa.”
Mom Nadine mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya, istilah GTM yang sering ia baca di media sosial menemukan solusinya.
Bukan sekadar mencari makanan yang disukai anak, tapi juga memahami proses anak belajar makan.
“Bu Kader,” Mom Nadine tiba-tiba teringat sesuatu yang mengganjal pikirannya.
“Bagaimana ciri-ciri anak stunting?”
Kader mengangguk.
“Stunting adalah kondisi ketika panjang atau tinggi badan menurut umur dan jenis kelamin berada di bawah -2 standar deviasi berdasarkan kurva pertumbuhan WHO.”
“Apa penyebab anak stunting?”
“Banyak faktor, Bu, pemberian ASI atau MPASI yang tidak optimal, infeksi berulang, kondisi kesehatan tertentu, faktor sejak kehamilan, lingkungan, sanitasi, sampai kondisi sosial dan keluarga.”
“Jadi bukan karena ibunya nggak bisa masak?”
Kader tersenyum.
“Tidak sesederhana itu, Bu.”
Mom Nadine memandangi Rafi yang sedang menghabiskan makanannya.
“Bagaimana kalau anak sudah stunting?”
“Nah, disitulah pentingnya Posyandu.” Jawab Kader
“Posyandu membantu menemukan masalah lebih awal. Bila dari pemantauan ditemukan — tinggi atau panjang badan menurut umur di bawah -2 SD, berat badan menurut umur di bawah -2 SD, kenaikan berat badan tidak memadai, atau pertumbuhan panjang/tinggi badan melambat—anak akan diarahkan ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa dokter.”
“Lalu apa yang dilakukan dokter?”
“Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bila diperlukan pemeriksaan penunjang seperti laboratorium atau rontgen untuk mencari faktor medis atau tanda bahaya yang mungkin menjadi penyebab.”
“Kalau anak sudah stunting, apa yang dilakukan?”
“Tergantung penyebab dan kondisi anak. Tata laksananya dapat mencakup penanganan masalah medis yang mendasari, nutrisi, faktor non-nutrisi, perbaikan kualitas tidur dan aktivitas fisik. Kalau ada masalah perkembangan, juga dilakukan pemeriksaan dan intervensi sesuai kebutuhannya.”
Mom Nadine terdiam.
“Berarti stunting masalah serius, ya Bu?”
Kader mengangguk.
“Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Dampaknya dapat berupa meningkatnya risiko penyakit infeksi dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, stunting dapat berkaitan dengan gangguan kemampuan kognitif dan kapasitas fisik yang dapat mempengaruhi produktivitas di masa dewasa.”
Mom Nadine memandang Rafi.
“Berarti stunting harus cepat ditangani?”
“Betul bu. Pencegahan dan intervensi perlu dilakukan sedini mungkin.”
“Sedini mungkin itu kapan?”
“Terutama pada periode emas kehidupan anak yaitu sejak masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun atau 1000 hari pertama kehidupan.”
Mom Nadine terdiam sebentar.
“Kalau sudah lewat dua tahun, apakah sudah terlambat?”
“Belum tentu, Bu. Setelah usia dua tahun pertumbuhan dan perkembangan anak tetap perlu dipantau. Bila ditemukan masalah, anak dibawa ke dokter untuk mendapat penanganan.”
Mom Nadine mengangguk.
Ia sama sekali tidak merasa sedang dihakimi.
Ia merasa diberi peta. Peta tentang apa yang harus dilakukan jika suatu hari masalah benar-benar ditemukan.
——————-
Sampai di rumah, Mom Nadine membuka aplikasi media sosial seperti biasa.
Namun ia tidak lagi mencari:
“Makanan impor penambah berat badan” atau “Suplemen peningkat nafsu makan”
Ia mencari jadwal Posyandu berikutnya.
“Bulan depan kita ke sana lagi, ya, Nak.”
Mbak Sari yang sedang membereskan meja tersenyum.
“Sekarang sudah tahu Posyandu, Bu?”
Mom Nadine tertawa.
“Sudah.”
Ia memandang Rafi yang sedang bermain.
“Tempat untuk memantau tumbuh kembang anak.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan kalau ternyata ada masalah, tempat untuk tahu harus mencari bantuan ke mana.”
Mom Nadine kemudian membuka Buku KIA.
Ternyata ini bukan sekadar buku yang dibawa saat pemeriksaan.
Melalui buku ini ia tahu bahwa pangan lokal bisa menjadi bagian dari makanan bergizi.
Bahwa pemberian makan anak, bukan sekadar membuat anak kenyang.
Bahwa pertumbuhan perlu dipantau berkala dengan alat ukur yang benar
Dan weight faltering bukan diagnosis stunting, tetapi alarm yang tidak boleh diabaikan.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI
0 Komentar