Kalau biasanya tempat wisata terkait dengan hal hal yang bikin bahagia, hepi, dan fun, mungkin hal itu tidak akan Anda dapatkan di ketiga tempat yang akan saya ceritakan ini. Ketiga tempat ini sebenarnya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi bagi bangsa Indonesia, namun memang karena nilai sejarah dari kejadian masa lampau yang sangat kuat itu maka tempat ini memang memiliki "rasa" dan sensasi yang berbeda dari tempat lain. 

Saya sendiri, bukan orang yang punya kelebihan khusus untuk melihat penampakan atau hal hal gaib. Saya bener benar sangat tumpul dalam hal seperti itu. Contohnya saja, bila berada pada tempat tertentu di RS yang sering dikatakan orang angker atau pernah ada penampakan, bila saya melewati tempat itu, baik tengah malam atau menjelang dini hari, saya tidak pernah melihat apapun atau merasakan apapun, sehingga saya juga santai saja dan tidak pernah merasa takut berada di tempat seperti itu. Atau bahkan, ketika saya pernah mengunjungi sebuah rumah yang memang kabarnya ada penunggunya dan kebetulan hal itu dikonfirmasi postif oleh teman saya yang ternyata bisa melihat hal hal gaib, saya juga tidak merasakan atau melihat apapun. Simpulannya, saya bener bener buta soal hal hal gaib sehingga itu juga membuat saya tidak pernah punya prasangka apapun di tempat yang kabarnya angker. 

Nah akan tetapi, hal itu sepertinya terpatahkan sendiri oleh ketiga tempat berikut ini. Saya mengunjungi tiga tempat tersebut dalam jangka waktu yang berbeda beda. Sewaktu saya masih SMA, Mahasiswa  S1 Kedokteran dan yang terbaru sewaktu masih Residen IKA . Kesan dan kejadian yang saya alami reaksinya sama. Saya tiba tiba merasa sesak, pusing dan merinding hebat sehingga membuat saya merasa panik, sangat sedih dan ingin segera meninggalkan temmpat itu. Saya juga merasa mual dan tiba tiba blank, membuat saya pengen nangis dan pergi

Ketiga tempat yang mebuat saya merasakan hal yang sama tersebut adalah : 
Pertama. Lubang Buaya G 30 S PKI
Saya mengunjungi tempat ini pada saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan pertama kali merasakan sensasi tersebut. 

Lubang Buaya adalah sebuah tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para korban Gerakan 30 September pada 30 September 1965. Secara spesifik, sumur Lubang Buaya terletak di Kelurahan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Lubang Buaya pada terjadinya G30S saat itu merupakan pusat pelatihan milik Partai Komunis Indonesia. Saat ini di tempat tersebut berdiri Lapangan Peringatan Lubang Buaya yang berisi Monumen Pancasila, sebuah museum diorama, sumur tempat para korban dibuang, serta sebuah ruangan berisi relik.
Nama Lubang Buaya sendiri berasal dari sebuah legenda yang menyatakan bahwa ada buaya-buaya putih di sungai yang terletak di dekat kawasan itu. Lubang buaya terdapat patung elang dan patung pahlawan, patung elang itu sangat besar. di Lubang buaya juga terdapat rumah yang di dalamnya ketujuh pahlawan revolusi disiksa dan dibunuh. Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang dilakukan oleh anggota Partai Komunis Indonesia.


Kedua. Lubang Jepang Bukit Tinggi
Saya mengunjungi Bukit Tinggi waktu itu ketika masih menjadi mahasiswi S1 Kedokteran dan sedang merayakan Lebaran bersama keluarga. Seperti biasa kami menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya udara di Bukit Tinggi. Kami tidak menyangka kalau ternyata ada objek wisata yang sangat berbeda suasananya dengan keindahan Bukit Tinggi. Tempat itu adalah Terowongan Lubang Jepang. Waktu memasuki lubang Jepang ini, saya sudah melupakan sensasi yang pernah saya rasakan dulu ketika di Lubang Buaya G 30 S PKI, sehingga saya pede saja melihat lihat ke dalam, tapi ternyata kemudian rasa itu muncul lagi tercetus ketika saya  melihat ruang penyiksaan yang ada di Lubang Jepang ini, spontan saya langsung lari keluar karena tidak tahan rasa sesak, sedih dan panik yang tiba tiba saya rasakan. Di luar, saya merasa sedikit blank, dan hampir pingsan untung saja Ayah saya yang menunggu di luar segera menolong saya memberikan minum dan menenangkan saya. Dengan masih gemetaran, saya dan ayah saya kemudian menunggu anggoa keluarga lain keluar dari wisata Lubang Jepang. Saya tidak tahu kenapa sensasi ini terjadi lagi, tapi mungkin ada baiknya kita baca saja sejarah tempat ini terlebih dahulu. 

Terowongan Lubang Jepang terletak di dalam kawasan Ngarai Sianok, sekitar 2 jam dari Kota Padang. Lubang ini dibangun oleh pemerintahan Jepang saat menduduki Indonesia 70 tahun silam. Tempat ini berfungsi sebagai benteng pertahanan Jepang dalam menghadapi Perang Asia Timur Raya.Lubang Jepang memiliki 16 ruangan, seperti ruang makan, dapur, ruang pengintaian, penjara, ruang penyiksaan, ruang amunisi, dan lain-lain. Lubang ini memiliki panjang sekitar 1.400 meter dan menjadi salah satu terowongan terpanjang di Indonesia.Pembuatan terowongan ini memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Setelah dipaksa membangun terowongan ini, para pribumi dibunuh agar rahasia bangunan ini tidak bocor. Ada ratusan rakyat yang dibunuh saat itu, serta menjadi sejarah yang kelam.Lubang Jepang mulai dikelola menjadi objek wisata sejarah di tahun 1984, oleh pemerintah kota Bukittinggi [2]. Beberapa pintu masuk ke Lubang Jepang ini diantaranya terletak pada kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi.


Ketiga. Lawang Sewu. 
Ini adalah tempat terakhir yang saya kunjungi juga tanpa sengaja atau rencana, ketika saya masih Residen IKA dan sedang melawat ke kota Semarang. Pada waktu itu Lawang sewu yang memang sudah dibangun kembali oleh pemerintah daerah Semarang sedang dipakai sebagai tempat Bazaar kota sebagai penarik wisatawan untuk mengunjungi bangunan tua ini. Suasana Lawang Sewu malam itu cukup ramai dengan pengunjung, penjual dan bahkan ada band di tengah gedung. Daerah daerah yang kabarnya angker seperti ruang bawah tanah dan lantai paling atas ditutup bagi pengunjung. Sehingga kami hanya berada di lantai pertama tempat diadakannya bazaar. 


Lawang Sewu sendiri merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang). 
Selain arsitekturnya yang indah, Gedung Lawang Sewu juga sarat akan nilai sejarah. Pada awal pembangunannya, gedung yang terletak tepat di depan Jalan Raya Pos Daendels ini digunakan sebagai kantor pusat NIS dan tempat tinggal pegawai Belanda. Kemudian pernah digunakan sebagai penjara bawah tanah oleh serdadu Jepang, lokasi pertempuran 5 hari di Semarang, hingga kantor pemerintahan pasca Indonesia merdeka. 


Pada waktu itu, saya memang tidak berniat masuk ke kamar bawah tanah atau lantai paling atas, karena saya sendiri juga sudah mulai merasakan sensasi yang berbeda ketika teman saya menunjukkan pintu masuk ke ruang bawah tanah dan lantai paling atas Lawang Sewu. Untunglah, saya tidak mengalami peristiwa sedahsyat di Lubang Buaya dan Lubang Jepang pada malam itu, saya mulai bisa mendeteksi perasaan "beda" yang aneh dan tidak bisa dijelaskan sehingga saya memilih untuk tidak melanjutkan lebih jauh. 

Dari ketiga tempat tersebut, setelah mempelajari sejarahnya saya melihat ada persamaan yaitu sama sama bekas tempat penyiksan manusia. Sensasi sedih luar biasa adalah yang paling menonjol saya rasakan dan sepertinya saya bisa merasakan jauh ke belakang puluhan tahun lalu bagaimana perasaan korban korban di tempat itu. Saya terus terang belum menemukan bagaimana hal ini bisa terjadi secara ilmiah sehingga saya tidak bisa membahas lebih lanjut mekanismenya, Saya sekedar ingin sharing saja buat teman teman mengenai beberapa tempat yang mungkin bisa dikunjungi untuk nilai sejarahnya dan sensasi "beda"nya, Salam