Travelling tips : Less than 48 Hours at most visited place in Indonesia


Artikel ini masih kelanjutan edisi jalan jalan keliling Indonesia : Indahnya Negeriku (1). Masih dengan aturan main yang sama yaitu : Anda hanya mempunyai waktu singkat (2x24 jam) berkunjung di suatu kota, tapi ingin mengunjungi tempat wisata paling berkesan di kota tersebut. Baik untuk menikmati keindahan alamnya, mencicipi jajanan kulinernya atau membeli buah tangan untuk dibawa pulang ke kota asal. 
Kota kedua yang akan saya bahas adalah Surabaya, Jawa Timur.

So pasti banyak sekali tempat wisata menarik di kota kedua terbesar Indonesia ini. Tapi berhubung We only have so little time and so many things to do, maka saya harus  memilah dan memilih tempat paling wajib dikunjungi di sini. Masih di kota Surabaya, tempat pertama dan terdekat yang bisa dikunjungi adalah Jembatan Suramadu. Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan antara Pulau Jawa (Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan). Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Sayang sekali, pengunjung dilarang berfoto foto di jembatan ini, karena dapat mengganggu lalu lintas yang sudah dibangun seperti jalan tol. Tapi bagi yang emang niat banget foto foto di jembatan, hati hati saja ya... Mesti pinter main kucing kucingan dan adu cepat dengan mobil patroli polisi yang kayaknya kerjaannya memang KHUSUS buat nangkepin orang orang yang foto foto di jembatan Suramadu, hahaha... :D


Jembatan Suramadu di malam hari dari mobil, by dr Esther Iriani SpA (makasi ya sumbangan potonya)

Kalau sudah menyeberangi jembatan Suramadu dan sampai ke Madura, jangan lupa beli oleh oleh batik tulis Madura yang sudah terkenal sampai ke luar negeri. Bila dibandingkan dengan batik Yogya atau Solo maka motif batik Madura ini lebih besar besar dengan pilihan warna yang lebih cerah seperti merah, biru, kuning dan hijau. Ada banyak sekali perajin dan pengusaha batik di Madura, kebetulan kami kemaren berkunjung ke Tresna Art Batik Madura, yang konon kabarnya batik disini dijamin asli batik tulis :) Selain belanja batik dan suvenir, kita juga akan disuguhi pisang rebus Madura dan minuman biddang poka (campuran rempah dan jahe) ciri khas dari Tresna Art Gallery. 

Tresna Art batik

Sudah puas belanja belanji, pastinya perut keroncongan dunkss.... Nah, di Madura ini ada kuliner yang sangat terkenal dan patut dicoba namanya Bebek Sinjay. Namun sayang, kemaren kami ndak sempat mencicipinya karena Bebek Sinjay ini kebetulan tutup di hari Jumat. Selain itu, jangan sampai kesorean datang ke Warung Bebek Sinjay, karena semua bebek sudah ludes di sore hari... Wow Amazing... Info terbarunya, tepat  tanggal 31 Mei 2013 kemaren, Bebek Sinjay sudah hadir di Food Court Kapas Krampung Plaza (KAZA), Surabaya. Jadi buat yang tinggal atau nginep di Surabaya ndak perlu lagi jauh jauh ke Madura buat "nangkep" si Bebek Sinjay :D

Setelah puas muterin kota Surabaya dan beli batik Madura, akirnya sampailah kita ke perjalanan inti yaitu wisata ke Gunung Bromo. Sekilas tentang Gunung Bromo (berasal dari bahasa Sanskerta: Brahma, Dewa Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Bentuk 'tubuh' Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera, atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah sekitar 800 meter (utara-selatan) dan sekitar 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya, berupa lingkaran dengan jari-jari 4 Km dari pusat kawah Bromo.Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Bila Anda berangkat dari Surabaya dan tidak punya waktu menginap di Bromo, perjalanan dapat Anda mulai dari Surabaya dengan menyewa sebuah mobil dan supir lalu berangkat tengah malam menuju Gunung Bromo. Mengapa harus berangkat tengah malam? Karena Anda akan sampai menjelang dini hari disana sehingga dapat mempersingkat waktu penantian menunggu sunrise di Bromo sebagai awal perjalanan wisata. Perjalanan tengah malam ini hanya memakan waktu 2,5 - 3 jam saja melalui Probolinggo dengan kondisi jalan yang bagus serta lancar. Jalan akan mulai menanjak dan sempit ketika hampir sampai di Bromo tetapi dijamin Anda tidak akan terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. 

Sesampai di parkiran mobil, sudah mulai terasa dinginnya pegunungan Bromo. Kabarnya suhu di sini mencapai 10 derajat celcius. So pasti dari rumah sebaiknya Anda sudah menyiapkan baju dingin dan kaos kaki, karena kebanyakan penjaja keliling di sini hanya menjual syal, sarung tangan dan topi kupluk. Dari parkiran mobil, perjalanan masih akan dilanjutkan menuju Penanjakan I (tempat melihat sunrise) dengan mobil Hardtop yang lumayan mahal harga sewanya. Untuk menyewa sebuah mobil hardtop (isi 4 orang) kita harus membayar sewa Rp 500 ribu di hari biasa dan dua kali lipat harganya di hari libur. Dengan harga itu, Anda akan diantar oleh supir hardtop ke empat tujuan wisata Bromo yaitu : Penanjakan1 (tpt melihat sunrise), Kawah Gunung Bromo, Pasir berbisik dan Savana (padang rumput). Bila Anda berkenan hanya mengunjungi 1-2 tempat saja, harga sewa juga dapat disesuaikan. 

Setelah melewati jalan yang berliku liku tajam di tengah pagi buta, akhirnya sampailah kami di Penanjakan. Penanjakan adalah sebuah punggungan bukit dengan akses penglihatan langsung ke arah Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Batok. Sesampainya di atas penanjakan, ada banyak toko yang menyediakan suvenir, penyewaan jaket, atau sekedar kopi dan teh hangat untuk menghangatkan tubuh. Sambil menunggu terbitnya matahari, Anda juga dapat sholat subuh dulu di musholla yang telah disediakan disini. Menyaksikan terbitnya matahari memang merupakan peristiwa yang menarik dan ditunggu tunggu oleh hampir semua wisatawan. Anda pun tidak selalu bisa melihat peristiwa ini, karena bila langit berawan, kemunculan matahari ini tidak terlihat secara jelas. Berikut beberapa foto hasil jepretan kami. 
 
Kamera yang kedinginan :D
Menanti fajar di Bromo
Fajar menyingsing di Bromo
 
Indahnya Bromo di pagi hari
 
Gunung Bromo dari pinggang bukit Pananjakan

Selesai menyaksikan matahari terbit, Anda dapat kembali menuruni Pananjakan untuk menuju ke kawah Gunung Bromo. Sinar matahari yang mulai menyinari, membuat Anda dapat melihat jalan menuruni bukit yang berliku liku tajam serta pemandangan sekitar. Anda juga akan melewati lautan pasir dengan luas mencapai 10 km persegi yang tak kalah indah pemandangannya. 
Selanjutnya, untuk mencapai kaki Gunung Bromo, Anda tidak dapat menggunakan kendaraan, Anda dapat menyewa kuda dengan harga Rp 125.000 pulang pergi atau bila merasa kuat, Anda dapat memilih berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Sesampai di kaki Bromo, perjuangan untuk melihat kawah Gunung Bromo belum selesai begitu saja, Anda masih harus menaiki anak tangga yang jumlahnya mencapai 250 buah. Setelah sampai di puncak, semua jerih payah pun terbayar. Akhirnya Anda dapat melihat indahnya kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap serta pemandangan ke bawah gunung yang Subhanallah tiada duanya...
Kawah Gunung Bromo
 
Di anak tangga ke 247 :D
 
Pemandangan Pura dari atas Gunung Bromo

Akhirnya... selesai sudah perjalanan kami ke Bromo, meninggalkan sejuta kesan dan makna terindah. Berikutnya oleh oleh  pilihan dari Surabaya kali ini adalah Lapis Surabaya yang Yummy banget... Gigitan pertama begitu menggoda deh pokoknya :D Selanjutnya, pasti nambah lagi...hehehe

Last but not least, Special Thanks saya ucapkan buat dr Esther Iriani SpA (Alumnus IKA FKUI, bertugas di RSUD Merauke) yang sudah nemeni perjalanan saya keliling Surabaya dan Bromo kali ini. Semoga dapat berjumpa lagi di perjalanan berikutnya :) Salam Vicka